Sambutan

"If you want something you’ve never had, you must be willing to do something you’ve never done."

Jumat, 13 Januari 2012

Contoh Karya Tulis Sederhana



Membuat karya tulis sederhana terdiri dari Kata Pengantar, Daftar Isi, Pendahuluan, Pembahasan, Penutup, serta Daftar Pustaka. berikut contohnya : 

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Alloh SWT. bahwa kami telah menyelesaikan tugas mata pelajaran makalah Bahasa Indonesia dengan Karya Tulis Ilmiah dengan judul/topic Pendidikan Dalam Sistem Pendidikan Nasional
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi. Namun kami menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan guru, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi.
Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amiin.
Tak ada gading yang tak retak, mohon maaf bila ada salah kata.
Terimakasih.




Penulis
  --------------------------------------------------------------------------------------------------------
Daftar Isi

Kata Pengantar       i
Daftar Isi                 ii

I.Bab I (Pendahuluan)
I.1 Latar belakang masalah  1
I.2 Permasalahan                2
I.3 Tujuan Karya Tulis        2
I.4 Manfaat/kegunaan          2
I.5 Metode Penelitian          2
I.6 Sistematika                    2
II.Bab II (Permasalahan)
II.1 Makna Pendidikan Nasional di Era Globalisasi    3
II.2Wujud Pelaksanaan Pendidikan Nasional      5  
II.3Mewujudkan Sistem Pendidikan Nasional     9
Bab III (Penutup)
III.1 Kesimpulan                  15
III.2 Saran                           16
BabIV (Daftar Pustaka)    17
 --------------------------------------------------------------------------------------------------------

BAB I
Pendahuluan

I.1 Latar Belakang Masalah
   Kalau sistem persekolahan muncul sebagai konsekuensi dari proses industrialisasi dan urbanisasi yang menjadikan pendidikan persekolahan (school education) sebagai tiang pembangunan negara peradaban (civilizational state), maka pendidikan nasional merupakan suatu gerakan pendidikan yang mengiringi gerakan negara kebangsaan di Eropa, terutama di Jerman. Hal ini dikemukakan oleh john Dewey yang menyatakan
                  “under the influence of German thought in pasrticular, education become a cicic function and the civic function was identified with the realization of the ideal of the national state”
                  Sselanjutnya Dewey untuk memperjelas aalasan mengapa Jerman menempuh kebijakan ini, dia menyatakan     :
                  “The historic situation to which referencce is mande in the after effects of the napoleonc conquests especially in Germany, the German states felt (subsequent events demonstrate the correctness of the belief) that systematic attention to education was the best means of recovering and maintaining their polotical integrity and power”
                  Sengaja dikutip pengamatan Dewey tentang gerakan pendidikan nasional dalam kaitanyya dengan pembangunan negara bangsa (nation state), karena dalam perenungan analitik penulis,  digariskannya ketentuan dalam UUD 1945 tentang perlu diselenggarkannya “sistem pengajaran nasional” serta tujuan “mencerdaskan kehidupan bangsa” hakkatnya merupakan hasil refleksi yang mendalam dari para pendiri Republik tentang nasib bangsanya dan diilhami oleh gerakan negara kebangsaan yang didukung oleh sistem pendidikan nasional yang berlangsung di eropa. Tidak lain karena dalam pengamatan perbandingan sejarah, penulis menemukan kesejajaran antar latar belakang sejarah gerakan negara bangsa di Eropa dan latar belakang sejarah yang mengilhami para pendiri Republik melakukan gerakan  membangun negara bangsa sejak permulaan abad ke-20
                  Kiranya perlu dicatat bahwa sampai akhir abad ke-16 Eropa yang terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil merupakan wilayah jajahan baik oleh imperium Islam sampai cordoba, Otoman Turki sampai Wina, dan Imperium Mongol. Halnya sama dengan Indonesia yang runtuhnya majapahit menjadi kerajaan-kerajaan kecil di jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, dan Nusa Tenggara, maupun Irian yang merupakan bagian dari tidore, satu persaatu dikalahkan dan dikuasai oleh pedagang dari Eropa (Belanda, Inggris, dan Portugis). Karena itu pendiri Republik yang memandang Indonesia sebagai pewaris  imperium Sriwijaya dan Majapahit yakin seperti yakinnyaOtto von Bismark (Jerman), Garibaldi (Italia), Napoleon (Perancis), dan King Arthur (Inggriis) bahwa dengan disatukannya berbagai kerajaan kecil menjadi satu negara bangsa yang kokoh yang sukar dikuasai oleh kekuatan asing.
Pendidikan Nasional dan Sistem Pendidikan Nasional ini membahas tiga masalah utama yaitu Maknadi Era Globalisasi, Wujud Pelaksanaan Pendidikan Nasional yang Selama ini Berlangsung dan Kaitanyya dengan Proses Pembangunan Negara Bangsa, dan Mewujudkan Terselenggaranya sistem pendidikan yang relevan dengan konstitusional SISDIKNAS.
I.2 Permasalahan
   I.2.1 Apa Makna Pendidikan Nasional di Era Globalisasi ?
         Di era globalisasi ini yang di negara maju masyarakatnya sudah memasuki era pasca modern, di tanah air Indonesia ini ada kesan diabaikannya pendidikan nasional dan konsep negara kebangsaan
    I.2.2 Bagaimana dengan Wujud Pelaksanaan Pendidikan Nasional yang Sekarang Berlangsung dan Kaitannya  Dengan Proses Pembangunan Negara Bangsa ?
Menganalisis pentingnya peranan pendidikan nasional pada berbagai negara yang kini menjadi negara maju seperti Jerman, Amerika Serikat, Jepang dalam pembangunan negara bangsa.
    I.2.3 Bagamana Cara Untuk Mewujudkan Sistzem Pendidikan Nasional yang Relevan dengan Fungsi Konstitusionalnya ?
Cita-cita untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional ke yang lebih baik lagi.
    I.3 Tujuan Karya Tulis
Tujuan menciptakan karya tulis iniUntuk mengetahui sistem pendidikan dalam sistem pendidikan nasional.
    I.4 Metode Penelitian
Untuk dapat memiliki informasi yang ada, penulis mencari informasi dalam buku “Ilmu dan aplikasi Pendidikan”
I.5 Kegunaan/Manfaat
   Kegunaan dari karya tulis sederhana ini untuk dapat mengetahui sistem pendidikan nasional terutama bagi para pemegang kebijakan pendidikan
I.6 Sistematika
    Di dalam karya ilmiah ini akan meliputi 3 bab. Bab pertama yaitu pendahuluan meliputi latar belakang, pembahasan, tujuan, metode penelitian, manfaat. Di bab kedua yaiutu berupa pembahasan, inti dari karya tulis ini atau isi dari karya tulisnya. Di bab ketiga berupa penutup meliputi Kesimpulan atau saran.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

BAB II
Pembahasan

II.1 Makna Pendidikan Nasional di Era Globalisasi
         Di era globalisasi ini yang di negara maju masyarakatnya sudah memasuki era pasca modern, ditanah air Indonesia ini ada kesan diabaikannya “Pendidikan Nasional” dan konsep negara kebangsaan. Padahal negara-negara yang sekarang termasuk dalam jajaran negara maju seperti Amerika Serikat, Britania Raya, Perancis, Jerman, dan Jepang adalah negara maju yang kemajuannya didukung oleh sistem pendidikan nasional untuk membangun negara bangsa mereka masing-masing. Tingkahlaku dan sikap politik amerika serikat yang melakukan berbagai expansi politik dan ideologi, hakekatnya merupakan perpanjangan dari persepsi dirinya sebagai negara bangsa dan peranannya dalam peraturan dunia.
         Gerakan nasionalisme etnis yang memporak porandakan negara Balkan dan negara-negara asia tengah dari uni sofiet tidak melunturkan semangatt negara bangsa yang tumbuh sejak akhir abad ke 18 untuk memperkuat jati dirinya sebagai negara bangsa.  Konsensus nasional seluruh kekuatan politik di masing-masing negara tidak dapat digoyahkan. Jarang kita membaca dan mendengar ada LSM di Amerika Serikat yang ikut mengajukan pemerintah negaranya ke lembaga internasional karena pelanggaran HAM seperti yang terjadi dalam perang Irak dan Afganistan. Betapa bersatunya bangsa Italia karena seorang warga negaranya tertembak dalam penyelamatan sandra di irak. Hal ini terjadi dengan LSM di Indonesia Pada saat wartawan/wartawati TV Metro disandera di Irak; yang bertindak adalah lembaga resmi pemerintah dan tokoh-tokoh nasional. Tetapi sebaliknya LSM kita menjadi peluang kemanusiaan internasional untuk mengusut berbagai pelanggaran HAM seperti di Timor Timur pasca jajak pendapat hakekatnya dapat mencoreng wajah bangsa. Tetapi sebaliknya tidak ada LSM yang merasa tersinggung dengan gejolak pelanggaran perbatasan wilayah negara oleh Malaysia atau tindakan sewenang-wenang tentara Australia terhadap nelayan bangsanya Sendiri 
         Ilustrasi diatas menunjukan betapa pemahaman tentang Indonesia sebagai negara bangsa, seperti Jerman, Prancis, Italia, Amerika Serikat, dan Jepang, serta China maupun India belum sepenuhnya dipahami, dan konsekuensinya adalah diabaikannya pendidikan nasional seperti sosok guru pembangunan negara bangsa. Di Indonesia, dalam masyarakat pendidikaan muncul rasa rendah diri masyarakat bangsa Indonesia. Hal ini dapat ditarik dari kenyataan dari munculnya istilah “Pendidikan bertaraf Internasional”, “Sekolah Nasional Plus” dan seterusnya. Istilah-istilah itu menunjukan betapa tidak dipahaminya makna pendidikan nasional. Bahkan dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional pun disamping ada ketentuan yang menetapkan perlunya ada standar nasional pendidikan, pada saat yang sama ada ketentuan agar “Pemerintah dan pemerintah daerah menyelennggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf Internasional”
         Diakui bahwa semua negara bangsa yang kini dominan dalam percaturan global, baik ekonomi, politik, dan IPTEK, sampai sekarang masih tetap berusaha agar pendidikan nasionalnya tidak kalah dalam hal mutu dari pendidikan negara lain. Berbagai pembaharuan yang dilakukan oleh berbagai negara nasional seperti Amerika Serikat bukanlah untuk menjadi bertaraf internasional melainkan menjadikan pendidikan nasional yang mutunya dapat bersaing dengan pendidikan negara lain baik Inggris, Jerman, Perancis, Jepang, ataupun Belanda.
         Peristiwa ketertinggalan Amerika Serikat dalam teknologi ruang angkasa (Sputnik) pada tahun 1957 yang menjadi pemicu pembaharuan pendidikan di Amerika Serikat, tidak pernah ada istilah menjadikan pendidikan di negara Amerika Serikat bertaraf internasional. Tetapi hasilnya menjadikan pendidikan Amerika Serikat mampu mendukung percepatan kemajuan Amerika Serikat disegala bidang kehidupan sehingga kini menjadi satu-ssatunya negara super power baik politik, ekonomi, kekuatan Angkatan Bersenjata, dan IPTEK. Dengan kata lain setiap negara diabad ke 21 ini masih tetap perlu menyelenggarakan pendidikan nasional yang relevan dengan tuntutan pembangunan negara nasional.
         Di era globalisasi ini percaturan dunia dalam segala bidang, ekonomi, politik, IPTEK, didominasi oleh negara yang maju dalam segala bidangnya. Baik dalam kaitannya dengan World Trade Union (WTO), atau PBB segala keputusan yang hasilnya mempengaruhi hubungan antar negara dipengaruhi oleh negara-negara nasional yang unggul dalam segala bidangkehidupan dan itu dipengaruhi oleh sistem pendidikan nasional. Dalam kaitan dengan masih tetap pentingnya negara nasional, Anthony D. Smith dari London School of Economics menyatakan :
         “In this unprecendented situation, nations and nationalism are necessary, if impalatable, instruments for controling the descrutive effect of massive social change; they provide the only large-scale and powerful comunities and belief system that can secure a minimum social cohesion, order, and meaning in a disruptive and alienating world. More over, they are the only popular forces that can legitimate and make sense of the activities of the most powerful modern agent of social transformations, the rational state. For this reason, nations and nationalism are unlikely to disappear, at least until all areas of the globe have made the painful transition to an affluent and stable modernity”
         Pandangan yang diungkapkan Smith diatas, yang sengaja dikutip secarara ekstensif, menunjukan salah satu argumen tentang masih pentingnya negara nasional, dan dikatakan paling tidak sampai tercapai kemakmuran dan modernisasi yang mantap serta merata secara global. Dipandang dari tingkat kemakmuran masyarakat bangsa Indonesia dan pemerataanya, dan tingkat kematangan masyarakat Indonesia yang modern yang rasional, yang berorientasi IPTEK, yang berbudaya demokrasi, dan menjunjung tinggi HAM yang masih jauh dari tingkatan yang ssepadan dengan kemakmuran dan kemantapan masyarakat modern yang demokratis. Bahkan kita masih berada pada tahap transisi yang memerlukan transformasi budaya, pentingnya membangun negara nasional yang didukung oleh terselenggaranya satu sistem pendidikan nasional yang relevan, efisien dan efektif tidak dapat ditolak.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan
          Dari serangkaian analisis sejak bagian pertama sampai bagian akhir dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1)      Bahwa dirumuskan dalam pembukaan UUD 1945 tentang upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai salah satu fungsi penyelenggaaraan pemerintahan negara, dan ditetapkannya pasal 31 dan 32 UUD 1945 untuk menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional dan untuk memajukan kebudayaan nasional yang merupakan landasan filosofis dan tujuan diselenggarakan satu sistem pendidikan nasional hanya dapat dipahami kalau kita memahami latar belakang sejarah dan konteks sejarah dari gerakan nasional untuk memerdekakan bangsa. Penyelenggaraan pendidikan nasional merupakan bagian terpadu dari upaya membangun negara kebangsaan Indonesia, yang adalah negara kesejahteraan yang demokratis berdasarkan pancasila, seperti tradisi yang telah ditempuh negara-negara kebangsaan didunia yang kini menjadi negara maju.
2)      Bahwa sejak para pendiri republik meninggalkan panggung penyelenggaraan pemerintahan negara perhatian pemerintah untuk menjadikan penyelenggaraan satu sistem pendidikan nasional sebagai bagian terpadu dari upaya membangun negara bangsa Indonesia yang maju, cerdas, berkeadilan sosial, dan demokratis berdasarkan pancasila tidaklagi nampak. Pemahaman tentang makna pendidikan nasional untuk kepentingan nasionalpun berubah-ubah dari era ke-era berikutnya. Berbagai upaya pembaharuan pendidikan tidak memperoleh dukungan yang diperlukan. Sistem pendidikan dari sebuah negara kebangsaan dan kesejahteraan yang demokratis tidak lagi secara berencana diupayakan untuk dapat mengembangkan potensi peserta didik secara optimal dan mengarahkannya sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya. Yang berlangsung hanyalah memperluas kesempatan memperoleh pendidikan tanpa didukung dengan dana dan persyaratan minimal bagi terselenggarannya proses pendidikan
3)      Bahwa penyelenggaraan satu sistem pendidikan nasional akan dapat melaksanakan fungsi konstitusionalnya yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan kebudayaan nasional bila pendidikan nasional yang berlangsung pada setiap satuan dan jenjang pendidikan dapat merupakan proses pembelajaran yang bermakna proses pembudayaan berbagai kemampuan, nilai, dan sikap dari seorang Indonesia yang cerdas, berkarakter, berkepribadian, beriman, bertaqwa, dan memiliki kemampuan profesional sesuai dengan tuntutan masyarakat di era globalisasi. Untuk itu perlu dirancang , dikembangkan, dan dilaksanakan pendidikan yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang bermakna learning to know, learning to do, learning to live together, dan learning to be, yaitu empat pilar belajar yang disarankan oleh komisi internasional untuk pendidikan abad ke 21 UNESCO.

 ------------------------------------------------------------------------------------------

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Almufti, inam, (1999). Learning.The teasure within. Paris: Unesco
BPS, Bappenas, UNDP, (2004). The economics of democracy. Financing Human                                              
development in Indonesia. Jakarta: The economycs of democracy
Brumbaugh, Ribut S, and Lawrence, nathaniel M., (1963). philosophers on education.Six
essayon the Foundations of western Though. Boston: Houghton Miffin

*isi dari karya tulis ini didapat dari buku "Ilmu dan Aplikasi Pendidikan" dari penerbit PEDAGOGIANA PRESS

1 komentar: